Thursday, August 3, 2017

Jangan Abaikan Galau-mu Putuskan Resign Atau Resiko Ditanggung Penumpang!?



Minggu lalu saya dapat pesan wa dari seorang teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu tapi kami bisa kontak karena ada grup wasap sekolah, ah grup ini berguna banget untuk sambung silaturahim, terlepas dari "keramaian" yang ada hehehe.

Pesan yang saya dapat sangat mengejutkan. Pesan singkat yang menyebutkan bahwa teman saya ini sudah meninggalkan apa yang menjadi kegalauannya selama ini. Sontak saya merinding, apakah ini maksutnya dia sudah resign dari tempat dia bekerja?

Seperti kita ketahui ada beberapa alasan seseorang memutuskan untuk resign. Bisa jadi karena lingkungan kerja tidak kondusif, punya bos nyebelin, teman-teman kantor yang kepo, tingkat stress tinggi , kantornya menjelang bangkrut, gaji tidak sebanding dengan beban kerja atau karena Allah. Alasan terakhir adalah alasan yang dipilih teman saya ini, masyaAllah.

Alhamdulillah teman saya mau menceritakan perjalanannya menuju resign dari salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia bahkan setelah resign. Berikut cerita lengkap kisah nyata dari seorang teman yang inshaAllah hidupnya diberkahi oleh Allah.


Assalamualaikum......
Mungkin ini merupakan kesekian kalinya cerita mengenai perjuangan hamba Allah untuk mencapai ridhoNya. saya yakin diluaran sana pasti banyak kisah yang lebih menarik dan menginspirasi. 
Nama saya Dana, alumni salah satu BUMN terkemuka di bidang perbankan. Sangat besar perusahaan saya (dulu) tempat saya bekerja. Penampilan yahud, oke, orang jelek bisa terlihat ganteng karena penampilannya, termasuk saya. Perfect penampilan itu tuntutan dari institusi saya (dulu).
Kisah ini dimulai dr 09-09-08, pertama kali kaki menginjakan di BUMN terkemuka, tanda tangan ikatan kerja, dan petualangan di ibu kota negara. Senang, bahagia, sedih campur aduk jadi satu. Memasuki babak baru dunia kerja yg sebelumnya disalah satu perusahaan retail terkemuka di Indonesia, dimana ada A disitu ada I. Saya juga alumni I di Sidoarjo.
Tepat ditanggal itu, surat penerimaan sbg pegawai BUMN saya terima, dan langsung ditempatkan di cabang Besar, Jkt Kota. Kantor Cabang ini mengerikan, cabang besar yg nasabahnya pun ada semenjak orang tua saya belum lahir. Sudah terbayang bagaimana dokumentasi arsipnya, lusuh, kusam, dan.....(jgn dibayangin ya). Penempatan pertama kali sbg CSA, Customer Service Administratif, salag satu bidang yg diminati banyak orang karena tidak berhubungan langsung dengan nasabah. Tapi di cabang ini, tidak ada orang yang ingin masuk CSA. Karena resiko yang sangat besar. Di Cabang ini saya bekerja selama 3,5tahun. Namun di tahun ke dua, timbul gejolak hati, mengganjal, bahkan berontak apa yang saya kerjakan ini benar?? Memang benar dimata SOP Perusahaan, tapi dimata SOP Allah, apa benar??
Pertanyaan itu semakin meruncing dikala senior sekaligus manajer saya mengajukan pengunduran diri. Dan tahu apa alasannya?? QS 2:275. Bos DJ Rio, beliau yang memaparkan apa yang terjadi dengan ikl kerja perbankan, khususnya di tempar kerja saya. Allahu Akbar......jadi selama ini yg menjadi kegelisahan hati mulai muncul. Ya....satu kata.....Riba. Bos DJ Rio memaparkan semua, dan itu terlihat jelas.

Kegeliasahan muncul dan memberanikan diri berdiskusi dengan Sang Ibunda. "Bu, klo ibu merestui, ananda ingin keluar dr tempat kerja ananda." Ibu bertanya,"Kenapa Le?? Kmu nggak inget gmn perjuangan kmu masuk ke tempat kerja kamu?? Kmu nggak inget gmn perjuangan Ibumu saat minta ijin untuk berangkat training??" (diperusahaan I, tidak diijinkan resign). Mendengar alasan itu, akhirnya saya menunda dan melihat kebutuhan adik2 sedang kuliah semuanya. Kejadian ini terjadi saat tahun 2010.
Berlanjutlah saya dengan kesibukan dan rutinitas kerja seperti biasanya. Memang, tidak dipungkiri saya mendapatkan banyak kemudahan2 untuk masalah finansial. Gaji oke, fasilitas CC proses cepat, Kredit apapun itu sangat mudah aq dapatkan.Ini membuat diri terlena.
Pertanyaan besarpun semakin muncul apa pekerjaan yang saya lakukan ini mendapat ridho Allah? Banyak persepsi yang mengakibatkan pengajuan resign kepada sang Ibunda saya ajukan kembali di tahun 2012. Namun kembali lagi, terbentur nasehat Ibunda, kebutuhan yang membesar, dan kewajiban yang masih ada mengharuskan saya masih bertahan di tempat kerja saya.

Hingga tahun 2014, dimana tahun itu saya diperkenalkan dengan seorang yang cantik jelita. Ya, sekarang dia istriku sekarang, yang menjadi pendamping hidup saya. Aq diperkenalkan oleh sahabat dari SMP dan SMA, Thanks a lot YPD, telah membantu silaturahmi saya dengan perempuan cantik yang sekarang menjadi istriku. Berawal 11 Januari 2014 pertemuan pertama kali di rumah Putri (istriku). Saat bertamu langsung bertemu dengan Ayahanda, dan diberi pertanyaan,"Kerja dimana mas?" "Di Bank **n**** pak."Jawabku. "Syariah ya Mas?"Pertanyaan selanjutnya dari Ayahanda. Hanya bisa menggelengkan kepala jawaban saya. Dan apa yang menjadi reaksinya? Wajah Ayahanda yang tadinya ceria sontak langsung muram. Saya langsung terbesit, Ya Allah.....apa ini petunjuk bahwa saya harus hijrah?

Sampai akad nikah pun berlangsung. Setelah akad nikah terucap oleh istriku,"Ayah segera mencari tempat kerja yang lain ya...." Ini langsung dari pendamping hidupku menginkan untuk meninggalkan tempat kerja itu. Ya Allah, 2 orang yang sangat berarti dalam hidupku memberi isyarat untuk segera hijrah. Dan peringatan itu muncul lagi saat berceloteh di Group Sekolah via WA. Sakit hati rasanya saat itu kalau hasil kerja seorang Bankir Konvensional dikatakan haram karena dapatnya dari Riba. Tak pelak emosi yang ada. Namun berjalannya Waktu, ini saya anggap peringatan juga buat saya. Many thanks for myfriend F*j** A**i**s**h sudah mengingatkan saya. Sampai teman saya W**a* jadi tempat curhat keberatan saya atas pernyataan F*j**.

Tapi ya sudahlah, sampai tahun 2016 berlangsung. Berbagai terpaan ujian datang silih berganti. Dari tidak lulusnya ujian naik Jabatan selama 3 tahun berturut-turut dari 2014-2016, tidak akurnya dengan atasan, sampai dikerjain oleh team marketing sendiri yang mengakibatkan harus mengganti atas permasalahan yang terjadi. Ya, saya harus menanggung kerugian Materi sampai 17 juta, itu saya ganti sendiri. Ini saya rasa sudah peringatan keras dari Allah buat saya. Langsung meminta ampun ke Allah dan tepat ulang tahun saya, saya ajukan surat resign saya.

Allahu Akbar........semua yang terjadi itu dari Dia. Ujian juga dari Dia. Pasti dan Yakin Jalan Keluar pasti dari Dia juga. Pengajuan Resign saya masukkan ke atasan saya. Dan sekaligus mengajukan meminta restu kepada orang tua untuk resign. Praktis.....bagai disambar petir disiang hari. Ayah, ya ayah saya langsung marah. Sampai terlontar kalimat yang memutus hubungan antara ayah dan anak. Hanya bisa menangis, dan berdoa supaya Ayah saya dpat mengerti dan memahami kenapa saya resign. Ibunda.....karena kelembutan hatinya hanya bisa menangis. Mendoakan supaya menemukan jalan keluar.

Sekarang 2017, tahun menuju surat keputusan resign disetujui dan turun. Sambil menunggu surat tersebut berbagai macam bujuk rayu agar nggak resign pun datang. Sayang karirnya dilepas, sebentar lagi naik jabatan lagi, bisa ngajuin pindah ke daerah, dan bla.....bla.....bla...... Namun saya anggap itu bisikan setan. Semua yang enak setan selalu berada disana. Dan akhirnya tepat 1 Februari 2017 status sebagai karyawan BUMN tesebut resmi saya tanggalkan.

Alhamdulillah Hirobbil Aalamiin.......Allahu Akbar......saatnya evolusi elang dimulai. Ya, Kehidupan yang berbeda untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar.
Kehidupan berjalan, sambil mengembangkan usaha. Dan lagi-lagi diuji, project dari usaha saya digagalkan secara sepihak, ujian ekonomi terus-terusan, hingga ungkapan kekecewaan dari seorang Ibu kepada anaknya. Alhamdulillah.....Allahu Akbar....semua terjadi atas kehendak Nya. Ujian yang timbul saya hadapi, tapi rasanya lemas, rontok tenaga, dan tak berdaya dikala Ibunda mengukapkan kekecewaan karena saya resign. Kekecewaan itu muncul karena masih belum munculnya hasil usaha saya yang menyebabkan keadaan ekonomi timpang.

Ya......pendamping hidupku yang hanya mengerti dan bisa menerima. Dia membesarkan hati saya, dia tahu usaha saya, dia tahu kerja keras saya. Sentuhan kasih sayangnya, perhatiannya, dan keusilannya yang membuat saya tetap tegar, tertawa, dan mampu menghadapi ujian ini. Demi Allah, saya takut. Karena Ridho Allah itu dari Ridho Ibu. Sehebat apapun anaknya kalau Ibu nggak Ridho, bagaimana hasilnya? Istriku, ya istriku yang menyemangati supaya tetap focus ibadah dan usahanya.

2 Bidadari penguatku, 1 selalu menyemangatiku, 1 nya kecewa atas kehidupanku sekarang. Namun bersyukur 1 Bidadari lainnya, ibu mertuaku menyemangatiku pula. Ya Allah.....Nikmat mana yang aku ingkari, sungguh nggak ada Ya Rob.....Hamba Bersyukur atas semua ini. Masih dihadirkan Bidadari yang menyemangati untuk menjadi sukses dalam usaha yang saya jalankan. Hanya bisa berdoa dan berdoa, supaya Ibunda bisa mengerti dan menyemangatiku pula. Sehingga kesuksesan dapat aku capai segera. Hukum percepatan, semakin banyak yang menyemangati dan mendoakan pasti kesuksesan itu akan menghampiri. Apalagi dari 3 Bidadari hidupku, Ibundaku, Ibu Mertuaku, dan Istriku yang cantik dan setia menemaniku.

Doakan selalu anakmu, suamimu ini supaya bisa secepatnya bisa meraih kesuksesan itu. Sehingga apabila Ade Junior kelak hadir, sudah tidak kekurangan apapun dan insyaAllah terhindar dari Riba.
Aamiin......
Wassalamualaikum

#selama 3 tahun itu pula (2014-2017), istriku mengalami keguguran 3 kali. hanya bisa berpositif thinking, mungkin Allah nggak mau anakku kelak mengkonsumsi nafkah ayahnya yang dari Riba.
#selama 3 tahun pula (2014-2016) saya nggak lolos naik jabatan, mungkin Allah nggak mau saya berlama-lama di tempat kerja saya.


Regards
Dana (AED)
Berusaha untuk keluar dari jerat riba memang berat. Seorang teman pernah bilang, tentang menanggapi godaan hutang riba, bahwa hanya yg bertekad sangat kuat ingin terhindar dari riba lah yang bisa menghindarinya karena godaan hutang riba sudah sangat massive di semua lini kehidupan kita.

Sudah banyak sekali yang sharing cerita hijrah resign dari bank. Digrup SMA saya setidaknya ada 2 orang memutuskan resign dari bank, ini yang terdeteksi ya. Lebih banyak sharing tentang perjalanan hijrah bisa join grup Belajar Wirausaha Bareng Saptuari. Grup ini membuktikan bahwa diluar sana dimuka bumi ini banyak manusia-manusia yang berusaha menggapai ridhoNya dengan menghindari riba. Yes, you're not alone! Jangan abaikan galau-mu, karna galau itu datangnya dari Allah. 



Yang masih ragu, masih banyak pertanyaan tentang apa itu riba, bahaya riba, ancaman Allah terhadap riba silahkan mencari ustaz terdekat dilingkungannya, karena belajar perlu guru, dan para ustaz adalah guru-guru yang dicintai Allah, inshaAllah akan mendapat pencerahan.


Oh Allah, Engkau Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah kami dalam istiqomah dijalanMu. Aamiin


Surat Al-Baqarah Ayat 275


الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Source gambar dari sini
Source video dari youtube channel mas Saptu 

11 comments:

  1. Saya kebetulan sekarang ini juga sedang ikhtiar buat cari kerja. Maunya sih jangan di BUMN yang sejenis itu mbak. Tapi orang tua maunya saya daftar di perbankan, mungkin memang anggapannya kerja di bank itu keren kayak kata orang-orang. Hihi dilema

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk orang tua generasi baby boomer sepertinya memang susah mengubah mindset kalau kerja kantoran itu keren,, trus gimana cara ubahnya? entahlah, sering didoakan saja mungkin
      semoga segera mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keinginan ya mbak :)

      Delete
  2. Ya Allah... Kalau ngomongin soal riba bikin debat ga berkesudahan, Mbak.
    Saya malah pernah dijauhi teman. Tapi ya sudahlah, risiko ditanggung di akhirat sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, jujur ga berani juga kalau head to head sama orang yg berpotensi debat begitu, mending saya suruh ngadep pak ustad aja
      dikantor bbrp teman sih mulai kepo nanya-nanya tapi biasanya mereka yang sudah ada pikiran dan tertarik soal terlepas dari riba, saya lebih nyaman diskusinya, ga ngotot, dan mereka juga cenderung memikirkan dan malah lebih dalam mencari tahu karena mungkin jawaban saya kurang memuaskan, seneng sih kalau ada yg sevisi,, tapi sayang blm banyak hiks

      Delete
  3. Ketika pekerjaan sdh tak lagi sesuai dengan nurani dan panggilan jiwa yo mbak. Aku dulu pernah merasakan galau sebelum memutuskan resign. Ditambah lagi tak lama setelah aku resign suami ter PHK. Alhamdulillah badai suatu saat pasti berlalu. Kuncinya: husnudzon pada Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Husnudzon kepada Allah, thanks mbak ilmunya,, diingatkan kembali

      Delete
  4. Pernah juga merasakan resign dari pekerjaan dua kali, yang pertama karena pindah tempat kerja padahal masih sayang banget tapi harus memilih, yang kedua karena mau lahiran. Yang pertama emang yang bikin galau...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesuai kebutuhan mana yg lebih urgent ya buk, enakan dirumah sama sikecil juga kayaknya hehe

      Delete
  5. untung blom pernah resign soalnya kerjanya dirumah sendiri hehe ...

    ReplyDelete
  6. Klo ngomong soal riba memang berpotensi debat. Tapi di sistem bank syariah kita sepertinya juga perlu dikaji ulang.
    Contoh khusus program dana perumahan (KPR) sbb:
    1) Cicilan di bank Syariah langsung dibuat flat yg setara dengan bunga floating 13.5% di bank konvensional tentunya secara kasat mata saja ini sangat memberatkan.
    2) Di bank konvensional ada sistem bunga fix (5-9% selama periode tertentu) yang tentunya meringankan dan bisa memberikan kesempatan pada nasabah untuk sambil nabung dan segera membayar pelunasan KPR lebih cepat. Tetapi seperti yg kita tahu tentunya klo konvensional terkait dg riba.
    3) Klo nunggu punya uang yg cukup untuk membeli rumah di suatu lokasi yang strategis harga property semakin lama semakin tinggi.

    Jadi pertimbangan2 semacam ini juga perlu dikaji ulang oleh Bank Syariah supaya masyarakat yg benar2 ingin menjauhi riba bisa fokus 100% untuk menggunakan sistem syariah dalam kehidupannya tidak setengah2. Just share semoga bermanfaat.. :)

    ReplyDelete

Silahkan meninggalkan komentar dengan menyertakan nama jelas atau link agar kita bisa saling silaturahim. Komentar tanpa nama alias anonymous tidak akan ditayangkan diblog ini.
Terima kasih telah berkunjung